Tinggalkan komentar

Peranan Manajemen Puncak, Wakil Manajemen, dan Konsultan dalam Tahap Awal Penerapan Sistem Manajemen Mutu

Keberhasilan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 (selanjutnya disingkat SMM) pada perusahaan keluarga yang baru pertama kali menerapkannya adalah hal yang sangat penting. Bagi pemilik perusahaan, keberhasilan ini akan mendorong mereka untuk memberikan sokongan sumber daya yang memadai, sementara bagi karyawan akan meningkatkan moral dan semangat mereka bekerja.

Motivasi perusahaan mengadopsi SMM umumnya dibedakan jadi dua, pertama semata-semata untuk mendapatkan pengakuan atau sertifikat ISO, karena disyaratkan pelanggan. Perusahaan seperti ini akan menerapkan persyaratan minimal dari standar SMM ISO 9001:2008. Kedua, perusahaan yang sedari awal menginginkan terjadi perbaikan kinerja mutu yang berkelanjutan. Mereka akan menerapkan seluruh persyaratan standar SMM dengan memanfaatkan secara optimalseluruh sumberdaya yang dimiliki.

Berdasarkan hasil penelitian, keberhasilan penerapan SMM sangat dipengaruhi oleh komitmen jajaran manajemen puncak. Komitmen jajaran manajemen puncak sesuai klausul 5.1 dan 5.2 persyaratan standar SMM (ISO 9001), meliputi peran, tanggung-jawab, dan wewenang  dalam memastikan persyaratan pelanggan dipenuhi, merumuskan dan menetapkan kebijakan mutu, memastikan sasaran mutu tercapai, menyelenggarakan tinjauan manajemen, dan memastikan ketersediaan sumberdaya.

Penelitian SMM terutama difokuskan pada enam bidang utama, yaitu hubungan antara ISO 9000 dan TQM, persepsi tentang keuntungan penerapan ISO 9000, hubungan antara ISO 9000 dengan perbaikan organisasi, manfaat ISO 9000 bagi berbagai jenis dan ukuran organisasi, dampak jangka panjang ISO 9000, dan motivasi menerapkan ISO 9000. Belum ada penelitian SMM yang membahas peran dari aktor kunci, yaitu jajaran manajemen puncak, jajaran manajemen menengah, ataupun peran konsultan, dalam keberhasilan penerapan SMM, terutama pada  perusahaan yang baru pertama kali menerapkannya.

Berdasarkan permasalahan di atas dirumuskan pertanyaan penelitian: (1) Apa peran, tanggung-jawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak yang berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM? (2) Apa peran dan tanggung-jawab wakil manajemen, yang membantu jajaran manajemen puncak, yang berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM ISO? (3) Apa peran konsultan, yang membantu jajaran manajemen puncak, yang berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM?

Metode Penelitian

Pada saat awal melakukan adopsi SMM, tiga pelaksana kunci berperan penting atas keberhasilan implementasi SMM. Jajaran manajemen puncak sebagai pemilik dan pengendali sistem, wakil manajemen sebagai koordinator dan pengendali sistem, dan konsultan sebagai pendamping dalam pengembangan dan penerapan SMM.

Hipotesa dan Model Penelitian

Hipotesa H1, yaitu jajaran manajemen puncak yang menjalankan tanggung-jawab dan wewenang dengan baik akan berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM.

hipotesa H2, yaitu peran dan tanggung-jawab wakil manajemen berdampak nyata pada keberhasilan

penerapan SMM.

Hipotesa H3, yaitu peran konsultan mendampingi manajemen perusahaan berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM.

Hipotesa H4, Jajaran manajemen puncak yang menjalankan tanggung-jawab dan wewenang dengan baik akan berdampak nyata pada tingginya motivasi wakil manajemen menjalankan peran dan tanggungjawabnya.

Hipotesa H5: Jajaran manajemen puncak yang menjalankan tanggung-jawab dan wewenang dengan baik akan memotivasi konsultan menjalankan perannya secara optimal.

Berdasarkan kelima hipotesis di atas dapat diturunkan model penelitian seperti pada Gambar :

Operasionalisasi Variabel

Operasionalisasi variabel penelitian adalah pendefinisian suatu konsep sehingga dapat diukur sesuai obyek yang diteliti.

Pengukuran dan Sampel Penelitian       

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala 7 (1: sangat tidak setuju, 7: sangat setuju). Metode pengumpulan data menggunakan metode survey. Pemilihan sampel dengan  judgment sampling, yaitu sampel dipilih berdasarkan suatu kriteria, yaitu terlibat aktif dalam merencanakan, mengembangkan dan melaksanakan SMM minimal 6 bulan. Sampel data terdiri dari 30 karyawan yang menduduki posisi di manajemen fungsional puncak dan menengah. Penelitian dilakukan berdasarkan studi kasus di 3 perusahaan manufaktur yang dikelola secara kekeluargaan, masing-masing memproduksi badan angkutan umum, badan dump truck, dan suku cadang sepeda motor.

Validitas dan Realibelitas

Suatu kumpulan indikator dari suatu konsep disebut realibel jiuka konsistensi internal-nya minimal 0,7 dan AVE-nya minimal 0,5. Berdasarkan hasil Tabel 2, seluruh kumpulan indikator variabel secara komposit.

Hasil dan Pembahasan

Signifikansi hubungan antara variabel dapat dicermati dari perbandingan antara nilai t-statistic dan  t-table, untuk tingkat signifikansi dengan ukuran sampel  n=30 diperoleh nilai  ttable=1,699. Hubungan antar variable disebut signifikan bila  t-statistic>t-table.

Hasil pengujian hipotesis 1 didapat nilai t-statistic = 0,632 memperlihatkan, bahwa peran, tanggungjawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak tidak berpengaruh langsung secara nyata terhadap keberhasilan penerapan SMM.

Hasil pengujian hipotesis 2 diperoleh nilai t-statistic = 3,971 menunjukkan, bahwa peran dan tanggungjawab wakil manajemen mempegaruhi secara langsung dan nyata keberhasilan penerapan SMM.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 3, diperoleh nilai t-statistic = 2,424 menunjukkan, bahwa perankonsultan mendampingi jajaran manajemen memengaruhi langsung secara nyata keberhasilan penerapan SMM.

Hasil pengujian hipotesis 4 diperoleh nilai t-statistic = 11,242 menunjukkan bahwa peran, tanggungjawab, dan  wewenang jajaran manajemen puncak yang dijalankan dengan baik memengaruhi langsung secara nyata peran dan tanggung-jawab wakil manajemen.

Hasil pengujian hipotesis 5 diperoleh nilai t-statistic = 2,036 menunjukkan, bahwa peran tanggungjawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak yang dijalankan dengan baik memengaruhi langsung secara nyata peran konsultan pendamping.

Simpulan

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 2 dan 4 bahwa peran, tanggung-jawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak dijembatani oleh peran dan tanggung-jawab wakil manajemen, terbukti memengaruhi secara nyata keberhasilan penerapan SMM. Artinya, perusahaan keluarga yang baru pertama kali menerapkan SMM membutuhkan sebuah tim mutu yang dikoordinasikan wakil manajemen untuk menyiapkan, mengkoordinasikan pelaksanaan, mengendalikan, dan mengevaluasi penyelenggaraan SMM. Tanpa bantuan wakil manajemen, keberhasilan penerapan SMM membutuhkan waktu lama.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 3 dan 5 bahwa peran, tanggung-jawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak dijembatani peran konsultan pendamping, memengaruhi secara nyata keberhasilan penerapan SMM. Artinya, pada perusahaan dengan pengetahuan dan pengalaman ISO yang masih terbatas serta terjadi perangkapan jabatan manajerial pada beberapa fungsi, kehadiran konsultan membantu jajaran manajemen puncak mempercepat pencapaian sasaran mutu perusahaan. Konsultan dapat memerankan fungsi sebagai pembimbing dan referensi SMM bagi perusahaan.

Sumber :

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ind/article/shop/18405/18225

Penulis : I Nyoman Sutapa

Jurnal Teknik Industri, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, 43-52

ISSN 1411-2485 print / ISSN 2087-7439 online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: