Tinggalkan komentar

Menyambut Teknologi Garis Gawang

Berapa kali anda pernah menyaksikan pertandingan sepakbola dimana bola sudah melewati garis gawang namun tidak disahkan menjadi gol? Atau sebaliknya, bola belum sepenuhnya melewati garis gawang tetapi wasit menyatakan sebagai gol? Jarang memang, mungkin anda akan memaklumi sang wasit atau menganggap itu suatu keberuntungan, tapi bagaimana bila hal itu merugikan tim yang anda favoritkan? Luapan emosi, kekesalan, prasangka buruk – wajar terjadi. Lalu bagaimana Badan Sepakbola Dunia mengatasi hal ini?

Belakangan, hal-hal tersebut sering diistilahkan ‘gol siluman’ (mengambil ungkapan Jose Mourinho saat disahkannya gol Luis Garcia ke gawang Chelsea saat ajang Liga Champions musim 2004/2005). Kenyataannya cukup banyak gol siluman yang terjadi di turnamen sepakbola level atas, hingga yang paling mutakhir yakni disahkannya gol Juan Mata saat Chelsea vs Tottenham Hotspur di semifinal Piala FA pada 15 April yang lalu.

Solusi atas hal ini bukannya belum pernah dibahas. Berbagai upaya sedang dipertimbangkan, mulai dari penambahan asisten wasit hingga penggunaan teknologi, seperti pada olahraga tennis dan F1. Namun perbedaan pandangan dari pihak yang pro penggunaan teknologi (yang diusung Presiden FIFA, Sepp Blatter) dan yang kontra (dari pihak Presiden UEFA, Michel Platini), menjadikan solusi atas masalah ini belum juga menemui titik terang.

Pihak yang kontra dalam hal ini menilai sepakbola sebagai sesuatu yang alami, termasuk dengan segala kontroversinya, serta menganggap biaya yang mesti dikeluarkan untuk menerapkan teknologi tsb tidak sebanding dengan frekuensi kejadian gol siluman, yang sangat jarang terjadi.

Penggunaan teknologi garis gawang -istilah yang sering disebut untuk teknologi yang membantu wasit memastikan sah atau tidaknya sebuah gol- saat ini ada beberapa alternatif, diantaranya :

1. Hawk-Eye

Sistem ini menggunakan enam kamera berkecepatan tinggi, yang tersebar di sekitar gawang, untuk melacak bola. Bola harus berkecepatan diatas 500 km per jam untuk menghindari deteksi. Saat ini teknologi Hawk-Eye digunakan dalam olahraga tennis, kriket dan snooker.

2. Cairos GLT System

Sistem GLT menggunakan medan magnet untuk melacak bola, sensor di tempatkan di dalam bola yang didesain tahan terhadap benturan kuat sekalipun. Terdapat pula kabel tipis yang dialiri arus listrik yang ditanam dibelakang garis gawang. Saat data hasil sensor diterima komputer maka akan dilanjutkan dengan sinyal radio ke jam tangan sang wasit. 

3. Goalminder 

Pada prinsipnya teknologi ini mirip dengan Hawk-Eye, namun dengan penggunaan kamera yang relatif lebih murah. 

Wajar bila sebelumnya FIFA membela wasit atas beberapa insiden miss judgement, namun kita jadi mengernyitkan dahi saat FIFA juga yang memutuskan mengistirahatkan wasit Jorge Larrionda dan Roberto Rosetti hingga akhir turnamen, setelah mereka dianggap kurang tepat mengambil keputusan pada perdelapan final Piala Dunia 2010 yang lalu.

 FA (Federasi Sepakbola Inggris) sudah mengisyaratkan akan menerapkan teknologi garis gawang pada Premiership musim 2012/2013 mendatang. Meskipun masih ada pihak yang kontra, penggunaan teknologi tsb cepat atau lambat akan tiba. Mungkin sebaiknya Platini mulai menanyakan kepada pihak yang paling dirugikan, yakni para pengadil lapangan hijau yang nampaknya memang butuh bantuan teknologi. (Khemal Wikantoro)

Sumber : 

http://sport.detik.com/sepakbola/read/2012/02/27/125928/1852404/73/-gol-gol-siluman–yang-menghantui-sepakbola

http://en.wikipedia.org/wiki/Goal-line_technology


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: