Tinggalkan komentar

PPT – Peranan Manajemen Puncak, Wakil Manajemen, dan Konsultan dalam Tahap Awal Penerapan Sistem Manajemen Mutu

Tinggalkan komentar

Peranan Manajemen Puncak, Wakil Manajemen, dan Konsultan dalam Tahap Awal Penerapan Sistem Manajemen Mutu

Keberhasilan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 (selanjutnya disingkat SMM) pada perusahaan keluarga yang baru pertama kali menerapkannya adalah hal yang sangat penting. Bagi pemilik perusahaan, keberhasilan ini akan mendorong mereka untuk memberikan sokongan sumber daya yang memadai, sementara bagi karyawan akan meningkatkan moral dan semangat mereka bekerja.

Motivasi perusahaan mengadopsi SMM umumnya dibedakan jadi dua, pertama semata-semata untuk mendapatkan pengakuan atau sertifikat ISO, karena disyaratkan pelanggan. Perusahaan seperti ini akan menerapkan persyaratan minimal dari standar SMM ISO 9001:2008. Kedua, perusahaan yang sedari awal menginginkan terjadi perbaikan kinerja mutu yang berkelanjutan. Mereka akan menerapkan seluruh persyaratan standar SMM dengan memanfaatkan secara optimalseluruh sumberdaya yang dimiliki.

Berdasarkan hasil penelitian, keberhasilan penerapan SMM sangat dipengaruhi oleh komitmen jajaran manajemen puncak. Komitmen jajaran manajemen puncak sesuai klausul 5.1 dan 5.2 persyaratan standar SMM (ISO 9001), meliputi peran, tanggung-jawab, dan wewenang  dalam memastikan persyaratan pelanggan dipenuhi, merumuskan dan menetapkan kebijakan mutu, memastikan sasaran mutu tercapai, menyelenggarakan tinjauan manajemen, dan memastikan ketersediaan sumberdaya.

Penelitian SMM terutama difokuskan pada enam bidang utama, yaitu hubungan antara ISO 9000 dan TQM, persepsi tentang keuntungan penerapan ISO 9000, hubungan antara ISO 9000 dengan perbaikan organisasi, manfaat ISO 9000 bagi berbagai jenis dan ukuran organisasi, dampak jangka panjang ISO 9000, dan motivasi menerapkan ISO 9000. Belum ada penelitian SMM yang membahas peran dari aktor kunci, yaitu jajaran manajemen puncak, jajaran manajemen menengah, ataupun peran konsultan, dalam keberhasilan penerapan SMM, terutama pada  perusahaan yang baru pertama kali menerapkannya.

Berdasarkan permasalahan di atas dirumuskan pertanyaan penelitian: (1) Apa peran, tanggung-jawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak yang berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM? (2) Apa peran dan tanggung-jawab wakil manajemen, yang membantu jajaran manajemen puncak, yang berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM ISO? (3) Apa peran konsultan, yang membantu jajaran manajemen puncak, yang berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM?

Metode Penelitian

Pada saat awal melakukan adopsi SMM, tiga pelaksana kunci berperan penting atas keberhasilan implementasi SMM. Jajaran manajemen puncak sebagai pemilik dan pengendali sistem, wakil manajemen sebagai koordinator dan pengendali sistem, dan konsultan sebagai pendamping dalam pengembangan dan penerapan SMM.

Hipotesa dan Model Penelitian

Hipotesa H1, yaitu jajaran manajemen puncak yang menjalankan tanggung-jawab dan wewenang dengan baik akan berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM.

hipotesa H2, yaitu peran dan tanggung-jawab wakil manajemen berdampak nyata pada keberhasilan

penerapan SMM.

Hipotesa H3, yaitu peran konsultan mendampingi manajemen perusahaan berdampak nyata pada keberhasilan penerapan SMM.

Hipotesa H4, Jajaran manajemen puncak yang menjalankan tanggung-jawab dan wewenang dengan baik akan berdampak nyata pada tingginya motivasi wakil manajemen menjalankan peran dan tanggungjawabnya.

Hipotesa H5: Jajaran manajemen puncak yang menjalankan tanggung-jawab dan wewenang dengan baik akan memotivasi konsultan menjalankan perannya secara optimal.

Berdasarkan kelima hipotesis di atas dapat diturunkan model penelitian seperti pada Gambar :

Operasionalisasi Variabel

Operasionalisasi variabel penelitian adalah pendefinisian suatu konsep sehingga dapat diukur sesuai obyek yang diteliti.

Pengukuran dan Sampel Penelitian       

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala 7 (1: sangat tidak setuju, 7: sangat setuju). Metode pengumpulan data menggunakan metode survey. Pemilihan sampel dengan  judgment sampling, yaitu sampel dipilih berdasarkan suatu kriteria, yaitu terlibat aktif dalam merencanakan, mengembangkan dan melaksanakan SMM minimal 6 bulan. Sampel data terdiri dari 30 karyawan yang menduduki posisi di manajemen fungsional puncak dan menengah. Penelitian dilakukan berdasarkan studi kasus di 3 perusahaan manufaktur yang dikelola secara kekeluargaan, masing-masing memproduksi badan angkutan umum, badan dump truck, dan suku cadang sepeda motor.

Validitas dan Realibelitas

Suatu kumpulan indikator dari suatu konsep disebut realibel jiuka konsistensi internal-nya minimal 0,7 dan AVE-nya minimal 0,5. Berdasarkan hasil Tabel 2, seluruh kumpulan indikator variabel secara komposit.

Hasil dan Pembahasan

Signifikansi hubungan antara variabel dapat dicermati dari perbandingan antara nilai t-statistic dan  t-table, untuk tingkat signifikansi dengan ukuran sampel  n=30 diperoleh nilai  ttable=1,699. Hubungan antar variable disebut signifikan bila  t-statistic>t-table.

Hasil pengujian hipotesis 1 didapat nilai t-statistic = 0,632 memperlihatkan, bahwa peran, tanggungjawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak tidak berpengaruh langsung secara nyata terhadap keberhasilan penerapan SMM.

Hasil pengujian hipotesis 2 diperoleh nilai t-statistic = 3,971 menunjukkan, bahwa peran dan tanggungjawab wakil manajemen mempegaruhi secara langsung dan nyata keberhasilan penerapan SMM.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 3, diperoleh nilai t-statistic = 2,424 menunjukkan, bahwa perankonsultan mendampingi jajaran manajemen memengaruhi langsung secara nyata keberhasilan penerapan SMM.

Hasil pengujian hipotesis 4 diperoleh nilai t-statistic = 11,242 menunjukkan bahwa peran, tanggungjawab, dan  wewenang jajaran manajemen puncak yang dijalankan dengan baik memengaruhi langsung secara nyata peran dan tanggung-jawab wakil manajemen.

Hasil pengujian hipotesis 5 diperoleh nilai t-statistic = 2,036 menunjukkan, bahwa peran tanggungjawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak yang dijalankan dengan baik memengaruhi langsung secara nyata peran konsultan pendamping.

Simpulan

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 2 dan 4 bahwa peran, tanggung-jawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak dijembatani oleh peran dan tanggung-jawab wakil manajemen, terbukti memengaruhi secara nyata keberhasilan penerapan SMM. Artinya, perusahaan keluarga yang baru pertama kali menerapkan SMM membutuhkan sebuah tim mutu yang dikoordinasikan wakil manajemen untuk menyiapkan, mengkoordinasikan pelaksanaan, mengendalikan, dan mengevaluasi penyelenggaraan SMM. Tanpa bantuan wakil manajemen, keberhasilan penerapan SMM membutuhkan waktu lama.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 3 dan 5 bahwa peran, tanggung-jawab, dan wewenang jajaran manajemen puncak dijembatani peran konsultan pendamping, memengaruhi secara nyata keberhasilan penerapan SMM. Artinya, pada perusahaan dengan pengetahuan dan pengalaman ISO yang masih terbatas serta terjadi perangkapan jabatan manajerial pada beberapa fungsi, kehadiran konsultan membantu jajaran manajemen puncak mempercepat pencapaian sasaran mutu perusahaan. Konsultan dapat memerankan fungsi sebagai pembimbing dan referensi SMM bagi perusahaan.

Sumber :

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ind/article/shop/18405/18225

Penulis : I Nyoman Sutapa

Jurnal Teknik Industri, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, 43-52

ISSN 1411-2485 print / ISSN 2087-7439 online

Tinggalkan komentar

Mempelajari Cara Pengolahan Air Bersih

Air bersih adalah kebutuhan penting dalam kehidupan  manusia. Dalam keseharian, air bersih digunakan untuk berbagai keperluan, dari minum, mandi, cuci, masak dan lainnya. Hasil dari aktivitas masyarakat tersebut adalah air buangan/air limbah. Selain dari rumah tangga, air buangan juga dapat berasal dari industri maupun kotapraja. Lalu bagaimana air buangan tersebut diolah menjadi air bersih?

Secara umum, pengolahan air bersih terdiri dari 3 aspek, yakni pengolahan secara fisika, kimia dan biologi. Pada pengolahan secara fisika, biasanya dilakukan secara mekanis, tanpa adanya penambahan bahan kimia. Contohnya adalah pengendapan, filtrasi, adsorpsi, dan lain-lain. Pada pengolahan secara kimiawi, terdapat penambahan bahan kimia, seperti klor, tawas, dan lain-lain, biasanya bahan ini digunakan untuk menyisihkan logam-logam berat yang terkandung dalam air. Sedangkan pada pengolahan secara biologis, biasanya memanfaatkan mikroorganisme sebagai media pengolahnya.

PDAM (Perusahaan Dagang Air Minum), BUMN yang berkaitan dengan usaha menyediakan air bersih bagi masyarakat, biasanya melakukan pengolahan air bersih secara fisika dan kimia. Secara umum, skema pengolahan air bersih di daerah-daerah di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Bangunan Intake (Bangunan Pengumpul Air)

Bangunan intake berfungsi sebagai bangunan pertama untuk masuknya air dari sumber air. Sumber air utamanya diambil dari air sungai. Pada bangunan ini terdapat bar screen (penyaring kasar) yang berfungsi untuk menyaring benda-benda yang ikut tergenang dalam air, misalnya sampah, daun-daun, batang pohon, dsb.

2. Bak Prasedimentasi (optional)

Bak ini digunakan bagi sumber air yang karakteristik turbiditasnya tinggi (kekeruhan yang menyebabkan air berwarna coklat). Bentuknya hanya berupa bak sederhana, fungsinya untuk pengendapan partikel-partikel diskrit dan berat seperti pasir, dll. Selanjutnya air dipompa ke bangunan utama pengolahan air bersih yakni WTP.

3. WTP (Water Treatment Plant)

Ini adalah bangunan pokok dari sistem pengolahan air bersih. Bangunan ini beberapa bagian, yakni koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi.

a. Koagulasi

Disinilah proses kimiawi terjadi, pada proses koagulasi ini dilakukan proses destabilisasi partikel koloid, karena pada dasarnya air sungai atau air kotor biasanya berbentuk koloid dengan berbagai partikel koloid yang terkandung didalamnya. Tujuan proses ini adalah untuk memisahkan air dengan pengotor yang terlarut didalamnya, analoginya seperti memisahkan air pada susu kedelai. Pada unit ini terjadi rapid mixing (pengadukan cepat) agar koagulan dapat terlarut merata dalam waktu singkat. Bentuk alat pengaduknya dapat bervariasi, selain rapid mixing, dapat menggunakan hidrolis (hydrolic jump atau terjunan) atau mekanis (menggunakan batang pengaduk).

b. Flokulasi

Selanjutnya air masuk ke unit flokulasi. Tujuannya adalah untuk membentuk dan memperbesar flok (pengotor yang terendapkan). Di sini dibutuhkan lokasi yang alirannya tenang namun tetap ada pengadukan lambat (slow mixing) supaya flok menumpuk. Untuk meningkatkan efisiensi, biasanya ditambah dengan senyawa kimia yang mampu mengikat flok-flok tersebut.

c. Sedimentasi

Bangunan ini digunakan untuk mengendapkan partikel-partikel koloid yang sudah didestabilisasi oleh unit sebelumnya. Unit ini menggunakan prinsip berat jenis. Berat jenis partikel kolid (biasanya berupa lumpur) akan lebih besar daripada berat jenis air. Pada masa kini, unit koagulasi, flokulasi dan sedimentasi telah ada yang dibuat tergabung yang disebut unit aselator.

d. Filtrasi

Sesuai dengan namanya, filtrasi adalah untuk menyaring dengan media butiran. Media butiran ini biasanya terdiri dari antrasit, pasir silica dan kerikil silica dengan ketebalan berbeda. Cara ini dilakukan dengan metode gravitasi.

e. Desinfeksi

Setelah bersih dari pengotor, masih ada kemungkinan ada kuman dan bakteri yang hidup, sehingga ditambahkanlah senyawa kimia yang dapat mematikan kuman ini, biasanya berupa penambahan chlor, ozonisasi, UV, pemabasan, dan lain-lain sebelum masuk ke bangunan selanjutnya, yakni reservoir.

4. Reservoir

Reservoir berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air bersih sebelum didistribusikan melalui pipa-pipa secara gravitasi. Karena kebanyakan distribusi di Indonesia menggunakan konsep gravitasi, maka reservoir biasanya diletakkan di tempat dengan posisi lebih tinggi daripada tempat-tempat yang menjadi sasaran distribusi, bisa diatas bukit atau gunung.

Gabungan dari unit-unit pengolahan air ini disebut IPA – Instalasi Pengolahan Air. Untuk menghemat biaya pembangunan, unit intake, WTP dan reservoir dapat dibangun dalam satu kawasan dengan ketinggian yang cukup tinggi, sehingga tidak diperlukan pumping station dengan kapasitas pompa dorong yang besar untuk menyalurkan air dari WTP ke resevoir. Pada akhirnya, dari reservoir, air bersih siap untuk didistribusikan melalui pipa-pipa dengan berbagai ukuran ke tiap daerah distribusi.

Sekarang ini, perkembangan metode pengolahan air bersih telah banyak berkembang, diantaranya adalah sistem saringan pasir lambat. Perbedaan utama pada sistem ini dengan sistem konvensional adalah arah aliran airnya dari bawah ke atas (up flow), tidak menggunakan bahan kimia dan biaya operasinya yang lebih murah. Pada akhir tahun lalu pun, Pusat Penelitian Fisika LIPI telah berhasil menciptakan alat untuk mengolah air kotor menjadi air bersih yang layak diminum, sistem ini dirancang agar mudah dibawa dan dapat dioperasikan tanpa memerlukan sumber listrik.

Sumber Gambar :

http://aryansah.files.wordpress.com/2010/12/treatment.gif

Sumber :

http://aryansah.wordpress.com/2010/12/03/instalasi-pengolahan-air-bersih/

http://ketutgiri.wordpress.com/2009/10/25/instalansi-pengolaha-air-minum-darimana-air-pdam-berasal/

http://nationalgeographic.co.id/berita/2011/09/lipi-ciptakan-sistem-baru-pengolah-air-kotor

http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/Buku10Patek/03PASIR.pdf

http://www.slideshare.net/septyazee/makalah-pengolahan-air-limbah

Tinggalkan komentar

Mari Menghemat Kertas Kerja

Pada masa sekarang ini, hampir setiap kantor telah memiliki komputer atau perangkat lain yang sebenarnya mampu menjadikan penggunaan kertas di tempat kerja menjadi seminimum mungkin. Namun, minimnya upaya untuk mengajak penghematan kertas kerja, kekurangpedulian karyawan yang bekerja, dan lainnya, menjadikan penggunaan kertas kerja masih sangat dominan.

Upaya untuk melakukan efisiensi kertas di tempat kerja secara menyeluruh bukan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh individu ataupun departemen tertentu, namun harus dilakukan oleh seluruh personel yang bekerja di dalam organisasi atau perusahaan. Untuk itu awalnya perlu dibentuk suatu team yang berasal dari tiap departemen dan berfokus untuk melakukan efisiensi kertas kerja.

Oleh karena itu, langkah-langkah yang tepat harus dirancang dan dilaksanakan dengan baik mengingat hasilnya nanti tidak hanya dapat menghemat banyak waktu dan biaya, namun juga meningkatkan keamanan dokumentasi serta  kepuasan pelanggan. 

Tahapan dalam upaya pengurangan penggunaan kertas diantaranya :

  • Membentuk Team Paperless

Bentuklah team lintas departemen – anggotanya terdiri dari masing-masing departemen. Team ini berfokus dalam upaya pengurangan penggunaan kertas kerja di perusahaan. Dapatkan dukungan dari tingkat manajemen. Buat daftar sukarelawan dari tiap area kerja untuk membantu dalam pelaksanaan cara-cara baru, dorong partisipasi karyawan serta buat laporan ke manajemen.

  • Mengidentifikasi Keuntungan

Identifikasi secara spesifik setiap keuntungan yang mungkin didapat dengan melaksanakan pengurangan penggunaan kertas kerja, diantaranya mengurangi sampah kertas, efisiensi tempat penyimpanan, efisiensi biaya, penampakan kantor yang lebih ‘hijau’, serta pengingkatan kepuasan kerja karyawan dan pelanggan.

  • Mengumpulkan Informasi

Dokumentasikan berapa banyak kertas kerja yang digunakan secara tahunan untuk berbagai keperluan (misal : mengeprint, mengcopy, surat jalan, iklan, dsb). Data pula seluruh biaya yang berhubungan dengan kertas kerja yang dapat dihemat nantinya.

  • Menentukan Tujuan dan Langkah Perbaikan

Tentukan tujuan secara jelas dan terukur. Buatlah visi tujuan jangka panjang hingga menolkan penggunaan kertas kerja. Selanjutnya tentukan langkah-langkah perbaikan, diantaranya : menggunakan kertas bekas, memanfaatkan teknologi digital, merubah margin dokumen, dan sebagainya.

  • Mempromosikan Tujuan dan Mendidik User

Berikan pengetahuan kepada para karyawan mengenai tujuan pengurangan penggunaan kertas kerja dengan tampilan presentasi yang menarik dan mudah dimengerti, serta berikan pula informasi kepada para karyawan mengenai cara-cara baru dalam implementasi efisiensi kertas kerja.

  • Melaksanakan Perbaikan

Implementasikan tindakan perbaikan yang telah ditentukan team.

  • Menjaga Momentum

Laksanakan meeting secara berkala dan buat laporan mengenai kemajuan yang telah dicapai oleh tiap-tiap departemen. Terimalah respon balik dari karyawan. Lebih jauh, berikan penghargaan kepada departemen yang melaksakan efisiensi dengan pencapaian paling signifikan.

(khemal)  

Sumber :

http://www.globalstewards.org/paperless-office.htm#.T-rH-xc9UUM

https://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/hemat-kertas-di-kantor-yuuk-d

http://greenlifestyle.or.id/tips/detail/14/

http://www.p-wec.org/id/go-green/hemat-kertas-itu-berarti-hemat-biaya-dan-peduli-hutan 

http://forum.kompas.com/green-global-warming/70064-gerakan-menghemat-kertas-di-tempat-kerja.html

 

Sumber Gambar :

http://www.entrepreneursolo.com/wp-content/uploads/2011/01/Paperless-Office.jpg

Tinggalkan komentar

Kapal Perang dan Teknologinya

Selama berabad-abad, kapal telah digunakan oleh manusia untuk mengarungi sungai ataupun lautan, dan meskipun pada awal abad ke-20 telah ditemukan pesawat terbang namun kapal masih memiliki keunggulan yakni mampu mengangkut barang dengan tonase yang lebih besar, misalnya kapal perang untuk mengangkut perlengkapan militer, kapal niaga untuk container barang-barang komersil, hingga kapal tanker yang membawa minyak dan produk turunannya.

Perkembangan Teknologi Perkapalan

Material untuk membuat kapal awalnya berupa kayu, namun seiring pembuatan kapal modern maka dibutuhkan material yang lebih kuat, bahan aluminium dan baja telah digunakan sebagai konstruksi dasar dan membuat lambung kapal.

Tenaga penggerak kapal juga banyak mengalami perkembangan dari saat manusia hanya menggunakan dayung, kemudian angin dengan bantuan layar, lalu mesin uap yang menggunakan bahan bakar batu bara, mesin diesel yang menggunakan bahan bakar minyak, hingga penemuan tenaga nuklir untuk jenis kapal induk, kapal jelajah dan kapal selam.

Keunggulan tenaga nuklir memungkinkan kapal dapat berlayar dalam jangka waktu cukup lama. Tenaga nuklir diperoleh dari reaktor nuklir yang berada pada kapal yang dihubungkan dengan turbin uap. Tenaga uap yang dihasilkan kapal selain untuk tenaga penggerak kapal juga digunakan sebagai sumber tenaga listrik di dalam kapal.

Untuk menentukan arah kapal, awalnya navigator memanfaatkan posisi bintang lalu dibantu alat-alat navigasi sederhana seperti kompas, astrolabe, serta peta. Pada abad ke-20, penggunaan radar, sonar hingga GPS memudahkan tugas navigator karena memiliki ketelian yang sangat tinggi dengan bantuan satelit.

Pengaruh Kebisingan Suara Kapal

Kebisingan kapal dengan tingkat intensitas tinggi yang tidak disadari menyebabkan dampak serius bagi ABK (anak buah kapal) serta ketidaknyamanan untuk setiap penumpang.

Sumber kebisingan suara terbesar di kapal adalah di ruang mesin, dimana suara berasal dari mesin penggerak utama. Dampak dari kebisingan terhadap ABK diantaranya :

1.       Dampak fisik : berkurangnya pendengaran, sakit kepala, stres, tekanan darah meningkat.

2.       Dampak psikologis : gangguan tidur, meningkatnya emosional, berkurangnya konsentrasi.

Kebutuhan Kapal Perang Modern

Meskipun perang dunia telah berakhir lebih dari setengah abad yang lalu, namun hampir setiap negara yang memiliki perairan tetap merasa perlu menegaskan posisinya sekaligus menjamin keamanan di perairan untuk melindungi negaranya dan aktivitasnya seperti nelayan dan perdagangan. Untuk hal inilah kehadiran kapal perang modern suatu negara dibutuhkan.

Menurut jenisnya kapal perang modern terbagi atas :

1.       Kapal induk, kapal perang yang dapat memuat pesawat tempur dalam jumlah besar.

2.       Kapal tempur, kapal perang bersenjata digunakan untuk pertempuran langsung di lautan.

3.       Kapal patroli, umumnya digunakan untuk mengawasi perairan internal suatu negara.

4.       Kapal angkut, untuk mengangkut berbagai kendaraan militer, misal : jeep, tank, hovercraft.

5.       Kapal selam.

6.       Kapal pendukung, misal : kapal tanker & kapal tender.

Perkembangan Kapal Perang NKRI

Kebanyakan peralatan militer Indonesia masih didatangkan dari negara lain, seperti China, Korea dan Amerika. Pesawat tempur, tank, kapal laut dan kapal selam masih banyak yang di impor. Namun dengan program pemerintah yang lebih memberdayakan industri dalam negeri, perlahan sudah mulai terlihat peralatan militer hasil karya anak bangsa.

Beberapa jenis kapal perang Indonesia buatan dalam negeri diantaranya :

1.   KRI Banjarmasin

Kapal ini diproduksi oleh PT. PAL yang bekerjasama dengan DSS (Dae Sun Shipbuilding) pada program transfer teknologi. Meskipun bukan 100% buatan Indonesia dimana kapal ini dipesan dari Korea Selatan, tapi pengerjaannya dibuat di galangan kapal PT. PAL dengan pengawasan tenaga ahli dan peralatan dari DSS.

2.   KRI Krait 827

Kapal ini bukan hanya rancangan anak bangsa namun 100% pekerjaannya ditangani putra-putri Indonesia yang tinggal di Batam, Kepulauan Riau. Ini KRI pertama di Indonesia berbahan baku aluminium yang sukses diproduksi.

3.   KRI Tarihu 829

Bertipe sama dengan KRI Krait 827 yang merupakan Kapal Patroli Cepat, KRI Tarihu 829 terbuat dari bahan GFRP (Glass Fiber Reinforced Plastic).

4.   KRI Alkura 820

Juga termasuk dalam tipe Kapal Patroli Cepat.

5.   KRI Clurit 641

Jenis KCR (Kapal Cepat Rudal) yang terbuat dari bahan baja khusus High Tensils Steel pada bagian lambung kapal, sementara bagian atas menggunakan aluminium alloy yang memiliki stabilitas dan kecepatan tinggi saat berlayar.

6.   KRI Kujang 642

Jenis KCR yang berbahan sama dengan KRI Clurit 641. Bahan High Tensils Steel yang digunakan diproduksi oleh PT. Krakatau Steel – Indonesia.

7.   KRI Banda Aceh

Serupa dengan KRI Banjarmasin, kapal ini juga bertipe LPD (Landing Platform Dock). Selain berfungsi memobilisasi pasukan, kapal ini juga dapat digunakan untuk fungsi OMSP (Operasi Militer Selain Perang), seperti membawa logistik ke daerah bencana alam.

8.   Kapal Induk Helicopter

Saat ini PT. PAL Surabaya juga sudah membuat prototype kapal induk kecil yang bisa memuat 6 helikopter, juga sudah membuat blueprint kapal induk untuk pesawat jet tempur.

9.   KCR Trimaran

KCR Trimaran adalah kapal perang multihull yang berbahan komposit serat karbon. Dengan bahan ini diharapkan kapal perang berpeluru kendali ini mampu memiliki manuver di atas air yang mumpuni, stabil, lincah, ringan namun kuat. Hal ini dikarenakan kekuatan serat karbon diyakini memiliki kekuatan 20 kali lebih kuat dibandingkan bahan dari baja.

Konsep Trimaran

Kapal Trimaran sendiri berarti kapal multihull (memiliki lambung kapal lebih dari satu), dimana terdapat satu lambung utama yang disebut Vaka dan dua lambung kecil atau cadik yang menempel di kanan dan kiri lambung utama yang disebut Amas.

Selama ini kapal perang selalu monohull (berlambung tunggal) yang sulit bila harus berlayar di perairan dangkal dan mudah tenggelam, namun konsep Trimaran memiliki keunggulan yakni : mampu berlayar di laut dangkal, lebih cepat, lebih ringan, stabil dan tidak mudah tenggelam. Meskipun demikian, dok yang lebih besar dibutuhkan mengingat Trimaran cadik di kanan dan kiri lambung utama dan saat berbelok diperlukan ruang yang lebih luas.

(Khemal Wikantoro)  

Sumber :

file:///C:/Users/asus/Downloads/Artikel%20Kapal%20Perang/Link%20Kapal%20Perang/Kapal%20perang%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.htm

http://higthtech.blogspot.com/search/label/TEKNOLOGI%20KAPAL%20INDUK

file:///C:/Users/asus/Downloads/Artikel%20Kapal%20Perang/Link%20Kapal%20Perang/EndAnesia%20-%209%20KAPAL%20PERANG%20BUATAN%20INDONESIA.htm

http://rixco.multiply.com/journal/item/628?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

http://jakartagreater.com/2012/05/misteri-kapal-cepat-rudal-trimaran/

Sumber Jurnal :

file:///C:/Users/asus/Downloads/Artikel%20Kapal%20Perang/Link%20Kapal%20Perang/STANDAR%20KEBISINGAN%20SUARA%20DI%20KAPAL%20%20%20Yudo%20%20%20KAPAL.htm

Tinggalkan komentar

Menyambut Teknologi Garis Gawang

Berapa kali anda pernah menyaksikan pertandingan sepakbola dimana bola sudah melewati garis gawang namun tidak disahkan menjadi gol? Atau sebaliknya, bola belum sepenuhnya melewati garis gawang tetapi wasit menyatakan sebagai gol? Jarang memang, mungkin anda akan memaklumi sang wasit atau menganggap itu suatu keberuntungan, tapi bagaimana bila hal itu merugikan tim yang anda favoritkan? Luapan emosi, kekesalan, prasangka buruk – wajar terjadi. Lalu bagaimana Badan Sepakbola Dunia mengatasi hal ini?

Belakangan, hal-hal tersebut sering diistilahkan ‘gol siluman’ (mengambil ungkapan Jose Mourinho saat disahkannya gol Luis Garcia ke gawang Chelsea saat ajang Liga Champions musim 2004/2005). Kenyataannya cukup banyak gol siluman yang terjadi di turnamen sepakbola level atas, hingga yang paling mutakhir yakni disahkannya gol Juan Mata saat Chelsea vs Tottenham Hotspur di semifinal Piala FA pada 15 April yang lalu.

Solusi atas hal ini bukannya belum pernah dibahas. Berbagai upaya sedang dipertimbangkan, mulai dari penambahan asisten wasit hingga penggunaan teknologi, seperti pada olahraga tennis dan F1. Namun perbedaan pandangan dari pihak yang pro penggunaan teknologi (yang diusung Presiden FIFA, Sepp Blatter) dan yang kontra (dari pihak Presiden UEFA, Michel Platini), menjadikan solusi atas masalah ini belum juga menemui titik terang.

Pihak yang kontra dalam hal ini menilai sepakbola sebagai sesuatu yang alami, termasuk dengan segala kontroversinya, serta menganggap biaya yang mesti dikeluarkan untuk menerapkan teknologi tsb tidak sebanding dengan frekuensi kejadian gol siluman, yang sangat jarang terjadi.

Penggunaan teknologi garis gawang -istilah yang sering disebut untuk teknologi yang membantu wasit memastikan sah atau tidaknya sebuah gol- saat ini ada beberapa alternatif, diantaranya :

1. Hawk-Eye

Sistem ini menggunakan enam kamera berkecepatan tinggi, yang tersebar di sekitar gawang, untuk melacak bola. Bola harus berkecepatan diatas 500 km per jam untuk menghindari deteksi. Saat ini teknologi Hawk-Eye digunakan dalam olahraga tennis, kriket dan snooker.

2. Cairos GLT System

Sistem GLT menggunakan medan magnet untuk melacak bola, sensor di tempatkan di dalam bola yang didesain tahan terhadap benturan kuat sekalipun. Terdapat pula kabel tipis yang dialiri arus listrik yang ditanam dibelakang garis gawang. Saat data hasil sensor diterima komputer maka akan dilanjutkan dengan sinyal radio ke jam tangan sang wasit. 

3. Goalminder 

Pada prinsipnya teknologi ini mirip dengan Hawk-Eye, namun dengan penggunaan kamera yang relatif lebih murah. 

Wajar bila sebelumnya FIFA membela wasit atas beberapa insiden miss judgement, namun kita jadi mengernyitkan dahi saat FIFA juga yang memutuskan mengistirahatkan wasit Jorge Larrionda dan Roberto Rosetti hingga akhir turnamen, setelah mereka dianggap kurang tepat mengambil keputusan pada perdelapan final Piala Dunia 2010 yang lalu.

 FA (Federasi Sepakbola Inggris) sudah mengisyaratkan akan menerapkan teknologi garis gawang pada Premiership musim 2012/2013 mendatang. Meskipun masih ada pihak yang kontra, penggunaan teknologi tsb cepat atau lambat akan tiba. Mungkin sebaiknya Platini mulai menanyakan kepada pihak yang paling dirugikan, yakni para pengadil lapangan hijau yang nampaknya memang butuh bantuan teknologi. (Khemal Wikantoro)

Sumber : 

http://sport.detik.com/sepakbola/read/2012/02/27/125928/1852404/73/-gol-gol-siluman–yang-menghantui-sepakbola

http://en.wikipedia.org/wiki/Goal-line_technology


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.